Mimpi di Atas Bantal

Sekian tahun lalu, dua kawan terlibat percakapan awang-awang. Mereka bermimpi, suatu hari nanti akan ada orang yang bikin album dengan media piringan hitam. Tentunya itu mimpi. Karena pencetak piringan hitam terdekat pada saat itu adalah di Singapura, harga tentu tak murah, belum lagi pemutarnya yang sudah sangat jarang. Kalau toh ada, mahal sekali. Mengapa mereka… Lanjutkan membaca Mimpi di Atas Bantal

Hitam + Putih = Abu-Abu

Ingatan saya pada pelajaran mencampur warna sewaktu SD tidak pernah hilang. Saya bahkan masih ingat peristiwa di kelas ketika guru menggambar mengajarkan percampuran warna primer. Kira-kira saat itu pagi menjelang siang, selepas jam istirahat pertama. Merah dicampur kuning menjadi jingga.  Merah dan biru jadi ungu. Semua warna bila dicampur putih menjadi muda. Sebaliknya, semua warna… Lanjutkan membaca Hitam + Putih = Abu-Abu

Emosi: Reaksi atau Keputusan?

Seorang kawan wajahnya selalu gembira. Cerah cerita. Pada kondisi paling genting sekalipun, ia akan tersenyum, lebar, mata berbinar. Kami semua pernah berpikir, ia pasti tak punya persoalan. Semakin usia bertambah, kami mulai menduga, ia adalah orang yang bisa menyembunyikan pedih-derita hidupnya. Karena, mana ada manusia normal yang tak punya persoalan. Iya, kan? Apa benar ia… Lanjutkan membaca Emosi: Reaksi atau Keputusan?

Sebesar-besarnya Besar, Bisa Seberapa Besar?

Alkisah seorang direktur berusia 50 sekian, gagal ginjal. Ia harus menjalani cuci darah seminggu tiga kali. Namun, ia masih bekerja full time. Tak hanya itu, ia sudah tiba di tempat kerja pukul 07.00 pagi. Juga tak hanya itu, ia pulang kantor tak pernah kala matahari masih ada.  Tak sekali pun pernah terdengar ia mengeluhkan sakitnya.… Lanjutkan membaca Sebesar-besarnya Besar, Bisa Seberapa Besar?

Kisah Lenyapnya Hati Kecil

SAJAK SABTU SORE • Kubungkam hati kecilku. Kuinjak ia hingga melesak ke dalam gelap yang paling gelap. Kubekap sampai sesak. . Hati kecilku pantang menyerah. Ia tak pernah pasrah. Terus mendesak ke permukaan tanpa amarah. Hanya satu pintanya: tolong aku jangan kalah. . Hey, aku yang tentukan semua! Jangan atur-atur semau-maumu! Ini perkara rugi-laba. Yang… Lanjutkan membaca Kisah Lenyapnya Hati Kecil

Ya Sudahlah…

Flash back, yuk. Kembali ke masa kecil. Ingatkah ketika kita sering diingatkan ini-itu. Awas, pisau tajam nanti luka. Hati-hati, api itu panas, jarimu jangan dekat-dekat. Setelah beranjak besar, mulai naksir cowok lalu belajar pacaran, lagi-lagi nasihat datang berderet-deret. Barangkali ada ibu yang bilang, “Pacaran jangan di tempat gelap, paling jauh gandengan tangan saja”. Kita dijejali… Lanjutkan membaca Ya Sudahlah…

Pintu Darurat. Gawat

Zaman masih berkantor, dan keluyuran ke kantor orang, saya senang menyelinap ke tangga darurat. Di situ biasanya jarang ada orang. Cukup menyenangkan untuk kabur dari keriuhan barang sejenak. Atau, sekadar lewat kalau hanya perlu naik atau turun satu-dua lantai. Tiga lantai juga sih, kalau enggak males. Lantaran kerap mampir ke tangga darurat, tak hanya di… Lanjutkan membaca Pintu Darurat. Gawat

Tertawalah, Mumpung (Masih) Gratis

Belum lama ini saya jumpa seorang perempuan tangguh, PR sebuah hotel bintang mahabanyak. Kesan pertama perjumpaan dengannya, ah ia khas PR yang ramah. Tak sampai setengah jam, saya menemukan sisinya yang lain. Ia adalah cancer survivor tingkat juara. Mengalami kemoterapi lebih dari 12 kali selama dua tahun. Tak berdaya dan melihat kematian sebagai kepastian yang… Lanjutkan membaca Tertawalah, Mumpung (Masih) Gratis

Jebakan Logika Pintu

Pada suatu hari, di sebuah penginapan. AC sentral yang dingin membuat saya merasa perlu membuka pintu balkon agar bisa menghirup udara segar. Kunci saya putar, pintu didorong. Bergeming. Kembali kunci saya putar ke arah sebaliknya, dan saya kembali mendorong pintu. Tak jua bergerak. Kening saya mengernyit, memutar kunci lagi, mendorong pintu lagi. Diam saja. Pintu… Lanjutkan membaca Jebakan Logika Pintu