Gusti Sang Maha Segala (7)

Sepanjang 2020, kami bertiga plus kucing-kucing tetap bisa makan dengan baik. Tidak ada yang kelaparan. Entah kenapa, saya kok tenang-tenang saja. Tidak ada panik seperti bertahun sebelumnya. Juragan nyaris tidak pernah putus rezekinya. Kadang banyak kadang sedikit. Tapi selalu ada. Entah gimana ceritanya. Dan, seringkali nih, tiada angin hujan apalagi badai, tahu-tahu kawan kirim makanan… Continue reading Gusti Sang Maha Segala (7)

Gusti Sang Maha Segala (6)

Pelajaran salat pertama Juragan justru datang dari orang yang baru dikenal dekat belum sampai satu tahun. Di situ saya mendapat keyakinan baru, ketika kita memutuskan untuk menyerahkan diri pada hal baik, maka semesta akan menggiring kita menuju orang-orang baik. Lah, logika dari mana coba, kok ujug-ujug diajak nge-gig sama band legend yang sudah lama nggak… Continue reading Gusti Sang Maha Segala (6)

Gusti Sang Maha Segala (5)

Kawin adalah hal besar. Kami masing-masing pernah kawin dan gagal. Logikanya, ngapain mengulang kesalahan yang sama? Pada saat menikah dulu, alasan saya jelas: mau punya anak. Sekarang, saya tak punya alasan penting untuk kawin. Tapi toh saya jawab “yuk!” Atas tawaran kawin dadakan entah kesambet apa itu. Juragan melamar saya sendirian ke Bapak (yaiyalah sendirian,… Continue reading Gusti Sang Maha Segala (5)

Gusti Sang Maha Segala (4)

Mualaf! Sebuah ide yang aneh banget datang dari Juragan. Satu-satunya perihal agama yang saya perkenalkan padanya hanyalah kata “Islam” di KTP. That’s all. Nggak ada yang lain. Baik pengetahuan, perilaku maupun akhlak. Datang dari mana ide itu? Meski terdengar aneh dan tidak masuk akal, respons saya kok malah terharu. Lalu sibuk mencari lembaga yang bisa… Continue reading Gusti Sang Maha Segala (4)

Gusti Sang Maha Segala (3)

Banyak peristiwa terjadi pasca perceraian. Ups and downs meriah! Tahun 2014 lay off gila-gilaan di kantor yang artinya, kehilangan pekerjaan sekaligus dapat pesangon dalam jumlah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Sebal senang dalam waktu bersamaan. Sehingga tak ada poinnya untuk menderita atau bersyukur. Oh dan kemudian memutuskan mulai serius lagi membina hubungan baru. Serius. Lagi.… Continue reading Gusti Sang Maha Segala (3)

Gusti Sang Maha Segala (2)

SMA saya bersahabat dengan seorang lelaki Cirebon teman sekelas yang rajin mengajak saya salat di mushala. Inilah perkenalan awal saya dengan salat lima waktu. Ya nggak lima waktu sih, karena di rumah saya tidak salat. Jadi ya sebenarnya saya salat bukan sepenuhnya karena menjalankan perintah agama, melainkan karena ada yang ngajak haha. Bagus yang ngajak… Continue reading Gusti Sang Maha Segala (2)

Gusti Sang Maha Segala (1)

Pelajaran agama pertama diperkenalkan kepada kami secara khusus di sekolah. Konsep Tuhan, surga neraka, salat lima waktu, puasa di bulan Ramadan (plus baju baru saat Lebaran), berbuat baik, dilarang mencuri. Pelajaran yang sama levelnya dengan membuat cerita tentang berlibur di rumah nenek. Setingkat pula dengan pemahaman gambar pemandangan itu dua gunung dengan jalan lurus di… Continue reading Gusti Sang Maha Segala (1)

Pukul Dua Dini Hari

SAJAK SABTU SORE . Dia kena covid! Dia kena covid! Lho, dia belum vaksin? Sudah! Lengkap! Dua kali! Oh, mungkin sekarang dia hanya flu biasa. Tapi dia sesak napas! Suaranya tersengal-sengal. Mungkin flu parah. Macam… apa itu, flu Spanyol yang katanya berat sekali. Tubuhnya lemah. Indra penciumannya hilang. Semua gejala ada! Ya mungkin saja toh,… Continue reading Pukul Dua Dini Hari

Tidak Enak atau Tidak Etis?

Ada banyak reaksi dalam melihat kesalahan diri sendiri.  Dulu, saya akan memekik (diam-diam kalau di tengah riuh orang), marah besar pada diri sendiri (dulu saya sampai jitak diri sendiri. Beneran, ini true story), atau ketawa ngakak sejadi-jadinya. Respons lanjutan adalah malu karena pernah melakukan kesalahan itu. Dari yang tingkatan ‘enggak bermutu’ seperti masih juga malu… Continue reading Tidak Enak atau Tidak Etis?

Diam Bukan Berarti Sepakat

Untuk menghindari konflik, saya cenderung memilih diam. Kalau ada yang saya tidak setuju, tidak suka, atau terganggu, saya akan mengalihkan perhatian pada hal lain. Nanti juga seiring waktu akan lenyap sendiri rasa tidak setuju, tidak suka atau terganggu itu. Naaah, biasanya persoalan muncul ketika air muka saya tak bisa menipu. Agak menyebalkan, sih. Orang-orang terdekat… Continue reading Diam Bukan Berarti Sepakat