Potensial Kena “Speak”

Seorang kawan pernah bertanya, “Apa sih charm-nya si Anu? Perempuan-perempuan yang dia dekati selalu mau.” Saya nggak bisa jawab. Karena yang saya tahu hanya sebatas si Anu orangnya perhatian, mencintai sampai tumpah-tumpah. Kemudian cerita bergeser pada: 1. Si Ani yang jatuh cinta pada si Anu yang pengangguran, sampai rela menyediakan tempat tinggal, uang bulanan, dan… Continue reading Potensial Kena “Speak”

Advertisement

Perkara Kopi

Saya peminum kopi yang taat. Sehari biasanya membuat 2-4 cangkir. Tadinya saya hanya mau Arabica. Tapi sekarang saya nggak pemilih-pemilih amatlah. Selama kopi hitam yang bukan sachetan, hajar. Belum lama ini, saya nemu kopi giling mesin di Indomaret. Ada banyak pilihan, mau Americano, Cappuccino, Coffee Latte, ada. Di Indomaret deket rumah saya, kalau beli dua… Continue reading Perkara Kopi

Rela Merangkak

Bulan ini, tepat setahun saya menjalani nyeri hate, kata Orang Sunda mah. Nggak enaknya banget banget dah dikhianati oleh dua orang yang saya sayang. Mereka berkolaborasi, menendang saya jauh-jauh. Dan sampai hari ini, saya nggak tahu, salah saya apa sih sama dua orang itu? Perjalanan setahun pas ini memberi saya pemahaman, kalau saya nggak perlu… Continue reading Rela Merangkak

Selamat Tahun Ini

Sudah sekitar lima bulan saya tidak mengisi blog ini. Menghilang atas nama ada kerjaan lain. Padahal, saya sudah bertekad sebenarnya untuk menjadikan menulis (di sini!) sebagai kebiasaan (dan kebutuhan) baru. Self-healing. Saya tetap menulis, sih. Nyaris setiap hari. Gantian saja di IG, Facebook, Twitter. Kadang melempar remah-remah, kadang agak panjangan dikit, dan sesekali sok-sok-an bikin… Continue reading Selamat Tahun Ini

Rumah

SAJAK SABTU SORE . Rumah adalah tempat belantara emosi saling bertumbur. Mengaduk jadi pusaran. Menggulung. Mengguling. Lalu lungkrah. Di rumah, pusara ragu menjadi keyakinan yang pantas diperjuangkan. Dan hanya di rumah, kebangkitan lahir terus menerus. Karena rumah berdiri dan terbangun dari cinta dan kasih sayang. Juga harapan. Juga mimpi mimpi. Juga keberanian. Sehingga penghuni rumah… Continue reading Rumah

Gusti Sang Maha Segala (7)

Sepanjang 2020, kami bertiga plus kucing-kucing tetap bisa makan dengan baik. Tidak ada yang kelaparan. Entah kenapa, saya kok tenang-tenang saja. Tidak ada panik seperti bertahun sebelumnya. Juragan nyaris tidak pernah putus rezekinya. Kadang banyak kadang sedikit. Tapi selalu ada. Entah gimana ceritanya. Dan, seringkali nih, tiada angin hujan apalagi badai, tahu-tahu kawan kirim makanan… Continue reading Gusti Sang Maha Segala (7)

Gusti Sang Maha Segala (6)

Pelajaran salat pertama Juragan justru datang dari orang yang baru dikenal dekat belum sampai satu tahun. Di situ saya mendapat keyakinan baru, ketika kita memutuskan untuk menyerahkan diri pada hal baik, maka semesta akan menggiring kita menuju orang-orang baik. Lah, logika dari mana coba, kok ujug-ujug diajak nge-gig sama band legend yang sudah lama nggak… Continue reading Gusti Sang Maha Segala (6)

Gusti Sang Maha Segala (5)

Kawin adalah hal besar. Kami masing-masing pernah kawin dan gagal. Logikanya, ngapain mengulang kesalahan yang sama? Pada saat menikah dulu, alasan saya jelas: mau punya anak. Sekarang, saya tak punya alasan penting untuk kawin. Tapi toh saya jawab “yuk!” Atas tawaran kawin dadakan entah kesambet apa itu. Juragan melamar saya sendirian ke Bapak (yaiyalah sendirian,… Continue reading Gusti Sang Maha Segala (5)

Gusti Sang Maha Segala (4)

Mualaf! Sebuah ide yang aneh banget datang dari Juragan. Satu-satunya perihal agama yang saya perkenalkan padanya hanyalah kata “Islam” di KTP. That’s all. Nggak ada yang lain. Baik pengetahuan, perilaku maupun akhlak. Datang dari mana ide itu? Meski terdengar aneh dan tidak masuk akal, respons saya kok malah terharu. Lalu sibuk mencari lembaga yang bisa… Continue reading Gusti Sang Maha Segala (4)

Gusti Sang Maha Segala (3)

Banyak peristiwa terjadi pasca perceraian. Ups and downs meriah! Tahun 2014 lay off gila-gilaan di kantor yang artinya, kehilangan pekerjaan sekaligus dapat pesangon dalam jumlah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Sebal senang dalam waktu bersamaan. Sehingga tak ada poinnya untuk menderita atau bersyukur. Oh dan kemudian memutuskan mulai serius lagi membina hubungan baru. Serius. Lagi.… Continue reading Gusti Sang Maha Segala (3)